NASEHAT ULAMA SUNDA KEPADA ORANG YANG BERHASRAT PERGI NAIK HAJI

Nasehat Ulama

NASEHAT ULAMA SUNDA

Nasehat Ulama Sunda – Sebuah kisah klasik Nusantara yang menggambarkan pandangan kritis seorang ulama Sunda tentang ibadah haji. Naskah Cod. Or. 5567 yang tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda. Berdasarkan tulisan di halaman judul naskah, teks ini berjudul Boekoe Woelang Hadji (selanjutnya ditulis: Buku Wulang Haji).

Teks ini merupakan salinan yang dikerjakan oleh seorang murid sekolah pendidikan guru, juga asal Sunda, berdasarkan teks lain karangan seorang ulama yang berasal dari kaum priyayi atau menak Sunda. Buku Wulang Haji berisi kritik terhadap beberapa kebiasaan kurang baik ang terdapat di kalangan para pemeluk Islam di Jawa yang dalam konteks bisa juga diluaskan ke wilayah Nusantara yang lain,  yang berhasrat naik tapi seringkali tidak didukung oleh biaya dan pengetahuan geografis maupun keagamaan yang cukup.

Kritik itu disertai dengan nasehat-nasehat bagi orang yang ingin naik haji. Hal ini cukup jelas tercermin pada judulnya yang memakai kata Jawa/Sunda wulang yang berarti pengajaran. Dengan disertakannya teks ini dalam buku ini, maka ia dapat melengkapi pengetahuan kita mengenai bagaimana ibadah haji dipandang oleh masyarakat Nusantara masa lampau.

Ibadah Haji Menjadi Idaman Setiap Muslim

Ibadah haji yang menjadi idaman setiap muslim Nusantara itu ternyata tidak hanya mendatangkan manfaat secara religius, tetapi juga menimbulkan banyak mudarat secara sosial. Sejauh ini yang dapat penulis lacak, Buku Wulang Haji ini tampaknya merupakan naskah tunggal. Naskah induk yang menjadi dasar salinan ini tidak diketahui keberadaannya sekarang. Cod. Or. 5567: Informasi Kodikologis Naskah ini pernah diperikan oleh van Ronkel 1921:168 (no. 399) dan Iskandar 1999, I:201. Cod. Or. 5567 tebalnya 132 halaman, tapi hanya 87 halaman saja yang ditulis; 45 halaman terakhir kosong.

Si pengarang juga tidak memakai gelar ‘haji’depan namanya selain gelar menaknya Raden’. Memang tidak setiap Pangulu atau hoofd Pangulu harus bergelar haji, sebagaimana dapat dikesan dari daftar para Pangulu dan Hoofd Pangulu di Jawa yang dibuat oleh Hisyam (ibid.) Jadi, tidak dapat dipastikan apakah Raden Muhamad Husen sudah pernah naik haji ke Mekah atau belum.

Namun demikian, melalui teks Cod. Or. 5567 kita mendapat kesan bahwa pengetahuan kartografinya lumayan bagus: ia cukup tahu tentang posisi dan jarak kota Mekah dari wilayah Nusantara. Yang jelas, status Raden Muhamad Husen sebagai Hoofd Panghoeloe menunjukkan bahwa ia merupakan bagian dari birokrasi kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19, sebagaimana telah dibahas dengan mendalam oleh Muhamad Hisyam dalam disertasinya, Caught between three fires: the Javanese Pangulu under the Dutch colonial administration, 1882-1942 (2001).

Buku Wulang Haji merupakan refleksi dari tanggung jawab seorang Pangulu kepada umatnya. Cukup unik juga bahwa beberapa pemimpin pribumi di Keresidenan Priangan sangat kritis melihat tradisi naik haji di kalangan masyarakatnya, baik dari segi teologis maupun sosial, seperti terefleksi dalam catatan Bupati Bandung Raden Adipati Aria Wiranatakoesoema (1925) tentang perjalanannya naik haji ke Mekah (1924), memoar Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1936) dan kritik Raden Muhamad Husen dalam Buku Wulang Haji ini.

Perbandingan Teks

Pembaca tentu dapat membandingkan nada teks yang disajikan dalam bab ini dengan nada teks-teks lain dalam buku ini yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara. Dalam Buku Wulang Haji ini, Raden Muhamad Husen mengeritik ke- biasaan umat Islam di Jawa ia menyebut “bangsa Sunda atawa Jawa” (bait 77a) – yang berhasrat naik haji ke Mekah.

Walaupun si pengarang merupakan bagian dari mata rantai administrasi kolonial pada masa itu, dan walaupun di Keresidenan Priangan para jemaah haji sering menimbulkan masalah karena dianggap berpotensi mengobarkan pemberontakan (beberapa kali memang sudah terjadi antara 1840-an pemerintah kolonial Belanda (lih. Kartodirdjo 1966), tapi dalam teks Buku Wulang Haji ini tidak ditemukan indikasi bahwa tujuan penulisannya demi kepentingan pemerintah kolonial.

Tujuan Raden Muhamad Husen mengarang teks ini, ialah “diharapnya supaya lebih berguna pada sekalian anak-anak sekolah dan sekalian lainnya yang harap mendapat selamat di dalam selama hidupnya” (h. 7 kiri). 1880-an) yang membahayakan otoritas.

Kritik Raden Muhamad Husen hanyalah tentang seringnya timbul kesengsaraan yang dialami oleh jemaah haji Jawah karena banyak di antara mereka yang tidak punya cukup bekal uang dan pengetahuan tentang ibadah haji dan negeri yang akan dituju (tanah Arab) yang letaknya sangat jauh dari wilayah Nusantara. Menurut pengarang, banyak orang ingin naik haji tapi uang mereka tidak cukup dan mereka malas bekerja.

Lika-Liku Naik Haji

Banyak di antara mereka yang ingin naik haji itu meminta-minta ke sana-sini, bahkan ada yang menipu, untuk mengumpulkan biaya perjalanan ke Mekah. Sering mereka pulang dalam keadaan miskin, yang kemudian menimbulkan persoalan kepada diri dan keluarga mereka. Tidak sedikit pula yang mendapat kesengsaraan di perjalanan karena bekal uang yang tidak cukup itu pula hilang dalam perjalanan.

Ada pula yang ditipu oleh para calo haji (hal masih berlaku sampai sekarang); ada yang dipaksa menjadi tenaga kuli oleh nakhoda-nakhoda kapal yang sering juga bekerjasama dengan sindikat di darat yang mencari tenaga kuli murah atau gratis untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan-perkebunan; di dalam syair di bawah disebutkan bahwa banyak jemaah haji Nusantara itu yang juga terpaksa berkuli di Birma, Malabar, Singapura dan juga Bali; ada yang terpaksa tinggal di tanah Arab untuk selamanya karena tidak ada biaya lagi untuk pulang ke Jawa; ada yang Jadi gila karena stres (lihat juga Wiranatakoesoema 1925: 32-33); nasib mereka yang paling buruk adalah dijual oleh sindikat-sindikat perbudakan (lih. Witlox 1991:25-31).

Rupanya bukan mereka yang pergi naik haji saja yang menderita, tetapi juga anak-istri mereka yang ditinggalkan di rumah karena ditinggalkan tanpa jaminan keuangan. Penulis menyuarakan aspek sosial dari tradisi ibadah haji yang sering diabaikan orang. Raden Muhamad Husen mengatakan hahwa tak ada gunanya ibadah haji itu apabila orang yang melakukannya menyia-nyiakan keluarganya di kampungnya, meninggalkan mereka dalam ketiadaan jaminan lang dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Kerja Keras

Pengarang mengajak masyarakatnya bekerja keras guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat pada umumnya terlebih dahulu, baru kemudian memutuskan untuk menunaikan rukun haji. Caranya antara lain dengan menggiatkan usaha pertanian dan perdagangan. Jika masyarakat rajin bertani, dan hasil pertanian itu kemudian diperdagangkan, maka ekonomi rakyat akan membaik, dan tentu saja hal akan menambah pendapatan keluarga.

Jika ekonomi keluarga sudah ternemk maka baru kemudian merencanakan untuk pergi naik haji. Menurut Rad Muhamad Husen itulah haji yang diridhai Tuhan. Penyajian Salinan Cod. Or. 5567: Catatan Umum Sebagaimana telah disebutkan di atas, Cod. Or. 5567 merupakan naskah dwiaksara: Jawi (di halaman sebelah kanan) dan Latin (di halaman sebeli kiri). Transkripsi yang disajikan di bawah ini didasarkan atas versi Jawi-nya yang disesuaikan dengan EYD.

Dengan penyesuaian menurut sistem EYD ini, diharapkan transkripsi Buku Wulang Haji yang disajikan dalam bab ini dapat dinikmati oleh pembaca masa kini. Buat pembaca yang berminat pada ejaan Jawi, patut dicatat bahwa:

– Penyalin menulis beberapa kata dengan menggunakan huruf hamzah dua vokal, contohnya k-w’-ntw-ngn (ke ‘untungan), ml-lw-‘y (melalu’i), kmsyty – nny (kemisti’annya),  an – y (ani’aya), m-‘w (ma’u), ta-‘w-In antara (ta’ulan).  Beberapa kata (karugian, sabelum, sagala, pangabisan, laluasa, katentuan, kasusahan) ditulis dengan sebuah alif dalam suku kata pertama.  Ini mungkin sekali merupakan pengaruh dari Lubasa Sunda dan digubah sebagai ciri kedaerahan, namun karena sama sekali tidak sistematis, maka disesuaikan dengan EYD dalam transkripsi.  Lebih, ada beberapa kata yang ditulis dengan dua cara yang berbeda oleh karena memang merupakan dua variasi dari kata yang sama, yaitu.  atau atawa, karenal kerana. 

Varian-varian itu diindahkan daklam transkripsi.  Demikian juga kata kuliling, misti dan kuciwa ditranskripsi seadanya karena dianggap sebagai variasi dari keliling, mesti dan kecewa.  Dapat menggunakan Bahasa Melayu untuk mengatur penggunaan huruf h di awal atau di akhir kata.  Dalam naskah Wulang Haji, kata-kata yang hilang, hutan, hitung dan habis ditulis tanpa huruf h awal;  Karena ejaan ini sistematis, maka diindahkan dalam transkripsi. 

Tutur Kata Hati

Demikian juga kata hati, lebih sering ditulis lengkap.  Kata-kata bodoh, sabar dan taruh juga ditulis secara sistematis tanpa huruf h akhir, dan oleh karena itu ditranskripsikan dengan demikian.  – Selain huruf alif di atas, penggunaan bahasa Sunda juga terlihat dalam penggunaan beberapa kata khas (ragab, gumira, pasah, menyawah, tipar, pertarungan, rimbas, kidang, kaler; lih. Catatan kaki pada syairnya).  Bahasa Arab (pengarang adalah Hoofd Penghulu) terlihat dalam arti kata mungkir dengan ejaan munkir.  Sementara bahasa Jawa tampak dalam penggunaan kata gaga (“huma”) serta ejaan kata disyairkan dengan huruf ng dari ‘ayn (d-y syngyr-kn, yaitu di syangirkan).  Di samping itu, bahasa Belanda boleh disetujui tidak ada.  Dengan demikian, profil budaya Muhamad Husen cukup kentara dalam kosakata dan ejaan yang dipakainya.

Leave a Reply